Plengkung Gading

Plengkung Gading, Bangunan Bersejarah Keraton Yogyakarta

Plengkung Gading – Jogja merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki banyak keunikan sehingga wisatawan betah berkunjung ke kota ini. Bukan hanya turis lokal saja, tetapi juga dari berbagai negara.

Wisatawan yang berkunjung ke Kota Yogyakarta akan merasakan keramahan masyarakatnya, kelezatan makanannya, keasrian wisata alamnya, dan budaya masih ada. Salah satu kebudayaan yang ada di Jogja adalah keraton dan banyaknya bangunan bersejarah di kota gudeg ini.

Di antara banyaknya bangunan bersejarah, ada satu bangunan yang cukup unik dan sakral yaitu Plengkung Gading. Bangunan berbentuk seperti pintu gerbang melengkung dan berwarna putih.

Plengkung yang Ada di Jogja

Plengkung Gading atau Plengkung Nirbaya
sdwijosusastro.wordpress.com

Plengkung Gading adalah sebuah bangunan gapura yang digunakan sebagai pintu masuk ke dalam jeron benteng Keraton Jogja. Bangunan ini merupakan satu dari lima plengkung yang digunakan sebagai pintu masuk ke dalam benteng.

Plengkung lainnya yang ada di Keraton Yogyakarta adalah Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan), Plengkung Nirbaya, Plengkung Madyasura (Plengkung Buntet), Plengkung Jagasurya (berada di sebelah barat alun-alun utara), Plengkung Jagabaya (Plengkung Tamansari).

Dari lima plengkung tersebut, yang lebih dikenal masyarakat adalah Plengkung Gading dan Plengkung Wijilan. Kenapa cuma dua saja yang dikenal masyarakat? Karena, bentuk dari kedua plengkung itu masih terjaga keasliannya.

Ada juga plengkung yang sudah ditutup sejak tanggal 23 Juni 1812, namanya Plengkung Madyasura. Plengkung ini ditutup untuk menghindari serangan musuh. Sehingga, Plengkung Madyasura dibongkar pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII. Bangunan tersebut kemudian diganti menjadi gapura berbentuk gerbang biasa.

Sejarah Plengkung Gading

Plengkung Nirboyo
catatansijarijempol.blogspot.co.id

Kalau kamu sudah baca tentang lima plengkung yang ada di Jogja pada artikel ini, tentu bertanya-tanya, kok nggak ada nama Plengkung Gading?

Sebenarnya, nama asli dari Plengkung Gading adalah Plengkung Nirbaya, letaknya berada di selatan Alun-alun Selatan Jogja. Plengkung ini dijadikan seagai pintu keluar jenazah sultan yang sudah wafat menuju ke Makan Imogiri. Konon, sultan yang masih hidup tidak diperbolehkan melewati plengkung di benteng bagian selatan ini.

Pada tahun 1986, Plengkung Nirbaya sempat diperbaiki agar bentuk aslinya tetap terjaga. Nama Nirbaya yang digunakan memiliki arti bebas dari bahaya duniawi, yang berati juga sederhana.

Dahulu, menurut Badan Pelestarian Cagar Budaya DIY, ada parit yang mengelilingi keraton. Parit tersebut difungsikan sebagai pertahanan terdahap serangan musuh. Lebar parit sekitar 10 meter dengan kedalaman 3 meter.

Pada tahun 1935 parit itu sudah hilang, kini tempat yang dulunya adalah parit sudah menjadi jalan. Tidak ada yang tahu pasti, kapan parit dialihfungsikan.

Selain parit, dulu juga terdapat jembatan gantung di setiap plengkung. Jembatan ini fungsinya sebagai jalan untuk masuk ke dalam benteng melewati parit. Ketika musuh datang, maka jembatan akan ditarik ke atas menjadi pintu penutup plengkung.

Menara Sirine

Ketika mengunjungi Plengkung Gading, akan kamu temukan menara sirine yang hanya akan digunakan saat dua momen saja. Yaitu, ketika tanggal 17 Agustus, untuk memeringati detik-detik proklamasi Republik Indonesia, dan juga saat bulan Ramadhan ketika menjelang berbuka puasa.

Keindahan Plengkung Nirbaya Ketika Malam

Plengkung Gading di malam hari
arroundofjogja.blogspot.co.id

Saat malam, plengkung ini akan tampak indah dengan lampu-lampu yang meneranginya. Kamu akan merasakan suasanya tempo dulu dengan bangunan yang masih memertahankan bentuk kuno-nya.

Buat kamu yang suka foto-foto dan ber-selfie ria, tempat ini pas banget deh. Selain melihat dan mengunjungi salah satu situs bersejarah di kota Jogja, kamu juga bisa memotret keindahan Plengkung Nirbaya. 🙂

Give a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.